Back to top

The Reformation Herald Online Edition

Pergilah Ke Seluruh Dunia

RABU, 10 DESEMBER, 2025
KE SEMUA JALAN DAN LORONG-LORONG
DANIEL BALBACH — USA (AMERIKA SERIKAT)

Yesus memberi satu perumpamaan menarik: “"Ada seorang mengadakan perjamuan besar dan ia mengundang banyak orang. Menjelang perjamuan itu dimulai, ia menyuruh hambanya mengatakan kepada para undangan: Marilah, sebab segala sesuatu sudah siap. Tetapi mereka bersama-sama meminta maaf. Yang pertama berkata kepadanya: Aku telah membeli ladang dan aku harus pergi melihatnya; aku minta dimaafkan. Yang lain berkata: Aku telah membeli lima pasang lembu kebiri dan aku harus pergi mencobanya; aku minta dimaafkan. Yang lain lagi berkata: Aku baru kawin dan karena itu aku tidak dapat datang. Maka kembalilah hamba itu dan menyampaikan semuanya itu kepada tuannya. Lalu murkalah tuan rumah itu dan berkata kepada hambanya: Pergilah dengan segera ke segala jalan dan lorong kota dan bawalah ke mari orang-orang miskin dan orang-orang cacat dan orang-orang buta dan orang-orang lumpuh. Kemudian hamba itu melaporkan: Tuan, apa yang tuan perintahkan itu sudah dilaksanakan, tetapi sekalipun demikian masih ada tempat. Lalu kata tuan itu kepada hambanya: Pergilah ke semua jalan dan lintasan dan paksalah/desaklah orang-orang, yang ada di situ, masuk, karena rumahku harus penuh.” (Lukas 14:16-23).

Siapakah dua golongan pertama yang diundang ke perjamuan ini, dan apa artinya?

“Dengan perjamuan besar ini, Kristus menggambarkan berkat-berkat yang ditawarkan melalui injil. Persediaannya tidak kurang daripada Kristus sendiri. Dia adalah roti yang turun dari surga; dan dari Dia aliran keselamatan mengalir. Para utusan Tuhan telah memproklamasikan pada bangsa Yahudi kedatangan Juruselamat; mereka telah menunjukkan pada Kristus sebagai ‘Anak Domba Allah, yang memikul dosa dunia.” Yohanes 1:29. Dalam pesta yang Dia telah sediakan, Allah menawarkan pada mereka pemberian terbesar yang Surga bisa karuniakan…. ‘Jika ada orang makan dari roti ini,’ Kristus bersabda, ‘dia akan hidup untuk selamanya.’ Yohanes 6:51.”1 Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya.

Dari kutipan di atas kitaa mengerti dua point indah:

1.Undangan pertama diberikan kepada bangsa Yahudi, yang mana akan menggambarkan orang Kristen hari ini sebagai umat pilihan Tuhan. “Dan jikalau kamu adalah milik Kristus, maka kamu juga adalah keturunan Abraham dan berhak menerima janji Allah/Elohim.” (Galatia 3:29).

2.Sebagai para pelayan dan utusan Allah kepada dunia ini, kita mendapat kesempatan Istimewa untuk memberikan pada dunia ini satu undangan untuk menerima karunia gratis dari roti hidup, yang adalah Kristus sendiri. “Kata Yesus kepada mereka: "Akulah roti hidup” (Yohanes 6:35).

Bangsa Yahudi menolak undangan ini karena kondisi rohani mereka—sambil berpikir bahwa mereka adalah “kaya dan makin kaya, dan tak perlu apapun” (Wahyu 3:17). Undangan kemudian diberikan kepada golongan kedua dari umat. Tuan kemudian berkata pada hambanya dalam Lukas 14:21, “Maka kembalilah hamba itu dan menyampaikan semuanya itu kepada tuannya. Lalu murkalah tuan rumah itu dan berkata kepada hambanya: Pergilah dengan segera ke segala jalan dan lorong kota dan bawalah ke mari orang-orang miskin dan orang-orang cacat dan orang-orang buta dan orang-orang lumpuh.” Ini tidak begitu banyak berbicara dalam pengertiah hurufiah seperti dalam arti rohani. Jika mereka yang mewakili umat Allah haris ini merasa kaya secara rohani, maka mereka yang di segala jalan dan Lorong-lorong mestilah mereka yang miskin rohani, lumpuh dan buta rohani.

“Hamba yang membawa orang miskin dan buta melapor kepada tuannya, “Sudah selesai seperti engkau perintahkan, dan namun masih ada ruangan. Dan Tuhan berkata pada pelayannya, Pergilah ke semua jalan dan Lorong-lorong, dan desaklah mereka untuk masuk, agar rumahku bisa penuh.” Di sini Kristus menunjukkan pada pekerjaan penginjilan di luar kekakuan Yahudi, ke semua jalan dan Lorong-lorong di dunia ini.”2

Bagaimana dengan dua kelompok terakhir yang disebutkan dalam perumpamaan, yang dirujuk sebagai jalan-jalan dan Lorong-lorong (lintasan-lintasan)? Kelompok-kelompok ini disebut oleh Inspirasi sebagai orang-orang dunia, mereka yang di luar iman kita.

Selama acara pelatihan penginjilan terkini di beberapa gereja, saya menyoroti Upaya-upaya kita—atau kurangnya Upaya-upaya kita--dalam menjangkau mereka yang di luar iman kita. Pada awal dari satu kelas, saya bertanya pada murid-murid untuk melihat sekeliling dan mengenali berapa banyak orang dalam ruangan yang adalah pemercaya baru dari luar gereja, menyambut dalam lima tahun terakhir. Dalam kelompok besar itu, hanya satu orang atau dua orang yang baru-baru ini datang beriman dari ‘dunia.” Ini membangkitkan pertanyaan kritis bagi masing-masing kita: Sebagai para pelayan Kristus, apakah kita sedang aktif menjangkau dan mengundang orang-orang lain ke pesta besar, dimana Yesus sendiri adalah roti hidup?

Kita mungkin heran, “Bagaimana saya akan melakukan pekerjaan ini? Secara khusus, siapa di dunia ini yang saya akan jangkau? Kita mungkin merasa tak pasti tentang menjangkau orang-orang dari berbagai latar belakang—apakah mereka berpendidikan tinggi, kaya, atau mungkin memegang kepercayaan yang berbeda dari ajaran Kristen tradisional. Sebagian mungkin merasa jauh dari komunitas beragama karena pilihan pribadi, gaya hidup berdosa, atau pandangan budaya. Sering ada keraguan tentang apakah orang-orang demikian akan tertarik dalam hal-hal rohani atau terbuka untuk terlibat dengan gereja.

Banyak dari kita mungkin beranggapan bahwa ini imungkin tidak akan bahkan menjadi benar atau layak untuk membawa orang-orang demikian ke gereja. Keraguan-keraguan ini bisa muncul ketika mempertimbangkan jangkauan keluar. Untuk menghilangkan keraguan ini, adalah bernilai untuk merenungkan pada apa yang Inspirasi harus katakan mengenai kelompok pertama untuk diundang ke pesta injil—mereka yang di “jalan-jalan raya.”

Jalan-jalan raya

“Undangan ke pesta pertama kali diberikan pada bangsa Yahudi, bangsa yang telah dipanggil untuk berdiri sebagai guru-guru dan para pemimpin di antara umat manusia….Ketika panggilan injil dikirim kepada non Yahudi, ada rencana kerja yang sama. Pekabaran pertama kali diberikan “di jalan-jalan raya”—kepada orang-orang yang punya bagian aktif dalam pekerjaan dunia, kepada para guru dan para pemimpin bangsa/umat.

“Biarlah para juru kabar Tuhan mengingat ini. Kepada para gembala kawanan domba, para guru yang ditentukan ilahi, ini harus datang sebagai satu perkataan untuk diindahkan. Mereka yang termasuk golongan-golongan yang lebih tinggi dalam masyarakat harus dicari dengan kasih lembut dan perhatian persaudaraan. Orang-orang dalam kehidupan bisnis, yang dalam posisi kepercayaan tinggi, orang-orang dengan kecakapan daya cipta yang besar dan punya pemahaman ilmiah, manusia-manusia jenius, para guru injil yang pikirannya belum dipanggil pada kebenaran-kebenaran khusus bagi masa kini—orang-orang ini harus menjadi yang pertama untuk mendengarkan panggilan. Pada mereka undangan mesti diberikan.

“Ada satu pekerjaan untuk dilakukan bagi orang kaya. Orang kaya perlu pekerjaanmu dalam kasih dan takut Tuhan. Terlalu sering dia percaya pada kekayaannya, dan tak merasakan bahayanya. Mata pikirannya perlu ditarik pada hal-hal yang bernilai bertahan/kekal….

“Mereka yang berdiri tinggi di dunia karena pendidikan mereka, kekayaan atau pekerjaan mereka, jarang disampaikan secara pribadi mengenai kepentingan-kepentingan jiwa. Banyak pekerja Kristen ragu mendekati golongan-golongan ini. Tapi ini tak boleh begini.”3

Seorang sahabat kental dari ayah saya termasuk golongan ini. Sedihnya, pada waktu ayah saya meninggal dunia, saya masih “di dunia.” Namun setelah datang kepada iman dan menjadi guru Injil, saya merasa didesak untuk menjangkau sahabat ayah saya. Dia orangnya bersahabat, jadi saya akan mengunjungi rumahnya dan kita akan makan malam. Sementara persahabatan kita berlanjut, saya mencari Tuhan bagi satu jalan untuk berbagi injil dengannya karena dia agnostic (tak percaya adanya Tuhan). Ketika saya mengunjungi rumahnya, dia akan menunjukkan pada saya roda potnya dan tempat pembakaran pot, karena dia suka membuat pot sebagai hobi. Beberapa kali dia bertanya jika saya mau membuat pot dengannya, tapi saya selalu menolak, karena saya tidak tertarik membuat pot. Sementara itu, ketika kita terus mengunjungi, saya sedang berdoa untuk mendapatkan satu jalan untuk berbagi injil dengannya. Kemudian pada suatu hari ketika saya sedang berdoa, saya terkesan untuk maju dan menerima tawarannya untuk membuat pot bersama—sambil menyadari bahwa ini bisa menjadi alat masuk untuk berbagi injil.

Ketika saya bilang pada bapak ini bahwa saya ingin belajar bagaimana membuat pot, dia sangat bahagia. Untuk paling pertama kali di sana, kita punya pengalaman hebat bersama—dan percaya atau tidak, saya mampu berbagi beberapa penerapan rohani tentang bagaimana Kristus yang adalah sang pembuat pot, dan kita adalah tanah liat. Setelah waktu ini bersama, saya mampu menabur beberapa benih injil di sini dan disana—dan persahabatan kita makin kental. Saya benar-benar mulai mengerti tentang caranya Kristus dalam memenangkan jiwa:

“Caranya Kristus saja yang akan memberikan sukses sejati dalam menjangkau orang-orang. Juruselamat bergaul dengan orang-orang sebagai seorang yang merindukan kebaikan mereka. Dia menunjukkan simpatiNya pada mereka, melayani kebutuhan mereka, dan memenangkan kepercayaan mereka. Kemudian Dia meminta mereka, “Ikutilah Aku.’”4 Ini meliputi hubungan yang lebih mendalam dan memenangkan kepercayaan seseorang. Kemudian sementara kita mengembangkan persahabatan yang lebih erat dengan seseorang, kita bisa lebih baik berbagi injil. Hari ini, setelah 10 tahun, bapak ini dan saya masih teman akrab—dan saya terus menanamkan benih-benih kebenaran, seraya percaya bahwa suatu hari dia bisa berada dalam kerajaan surga.

Kita disampaikan bahwa Kristus mengerahkan banyak upaya pada orang-orang golongan khusus ini—dan kita juga ditunjukkan bagaimana Dia menjangkau mereka. Yesus “mencari perkenalan dengan orang kaya dan orang Farisi yang berbudaya, bangsawan Yahudi, dan penguasa Romawi. Dia menerima undangan mereka, menghadiri pesta-pesta mereka, menjadikan diriNya sendiri akrab dengan kepentingan mereka dan pekerjaan mereka sehingga Dia dapat memperoleh jalan masuk ke hati mereka, dan menyatakan pada mereka kekayaan yang tak bisa binasa.”5

Lorong-lorong

Kita juga disampaikan untuk menjangkau mereka yang di “Lorong-lorong” atau “gang-gang.” Berbicara dari zaman Musa, Alkitab menyebutkan “orang asing, dan kaum yatim piatu, dan janda-janda, yang ada dalam pintu gerbangmu, akan datang, dan akan makan, dan kenyang” maka orang Lewi, karena ia tidak mendapat bagian milik pusaka bersama-sama engkau, dan orang asing, anak yatim dan janda yang di dalam tempatmu, akan datang makan dan menjadi kenyang, supaya TUHAN, Allahmu, memberkati engkau di dalam segala usaha yang dikerjakan tanganmu." (Ulangan 14:29). Inspirasi mengatakan pada kita, “kita jangan hanya memikirkan orang-orang besar dan bertalenta, lalu mengabaikan golongan-golongan yang lebih miskin. Kristus menginstruksikan para utusanNya untuk pergi juga pada mereka yang di Lorong-lorong dan gang-gang, kepada kaum miskin dan sederhana di bumi. Di istana-istana dan di jalan-jalan sempit di kota-kota besar, di Lorong-lorong sunyi di pegunungan, ada keluarga-keluarga dan individu-individu—mungkin orang asing di tanah asing—yang tanpa hubungan dengan gereja, dan yang, dalam kesunyian mereka, merasa bahwa Allah telah melupakan mereka.”6

Membuang prasangka buruk kita

Sebagai seorang remaja, saya sedang menjual buku kira-kira selama 5 jam setiap hari untuk menolong membayar uang asrama di sekolah saya. Intruktur kita mengajarkan kita banyak prinsip-prinsip kebaikan yang ditemukan dalam perumpamaan perjamuan besar. Salah satunya adalah bahwa kita harus menjual buku pada semua golongan di tetangga kita, bukan hanya pada orang-orang yang mungkin kita anggap paling prospek membeli buku-buku kita. Suatu hari kami akan pergi ke orang kaya, hari berikutnya ke golongan menengah dan besoknya lagi ke tetangga miskin kita.

Sementara menjual buku di tetangga miskin suatu hari saya punya pengalaman yang mencerahkan. Ketika saya mendekati pintu depan, saya memperhatikan beberapa hal yang menyatakan beberapa karakter kasar yang hidup pada rumah ini. Karena saya dibesarkan di daerah kota yang lebih besar di Los Angeles, California, saya mampu mengenali tanda aroma—dan cukup pasti, itu benar—sementara pintu dibuka, saya melihat sekelompok laki-laki di ruang tamu sedang minum miras dan merokok marijuana. Saya juga mengenali melalui warna dan jenis pakaian yang dikenakan bahwa mereka adalah mungkin para anggota geng. Dalam memulai jual buku, pikiran pertama saya adalah bahwa saya akan disampaikan, “Tidak tertarik!” dan pintu akan dibanting di wajah saya.

Tapi ini bukanlah kasusnya....Saya mampu menjual semua empat atau lima buku yang saya punya di tangan saya sementara seseorang dengan sabar mendengarkan. Ketika saya sudah selesai, dia berkata, “Tunggu sebentar,” dan kembali dengan $20, sambil berkata, “Saya akan ambil buku itu,” seraya menunjuk pada satu buku rohani. Sementara saya akan memberinya kembalian (karena waktu itu buku ini harganya hanya $10,) dia berkata, “Ambil saja kembaliannya, terus kerjakan apa yang kamu sedang kerjakan, dan Tuhan memberkati kamu!”

Sementara meninggalkan rumah itu, saya merenungkan pelajaran yang sangat bernilai yang saya baru pelajari. Ketika pertama kali mendekati rumah itu, saya punya beberapa ide prasangka buruk. Khususnya setelah pintu dibuka, saya berpikir, “Kenapa saya mengetuk pintu rumah ini? Para lelaki di sini secara jelas sedang melakukan hal-hal yang bertentangan dengan Allah dan firmanNya, jadi kenapa saya akan memboroskan waktu saya dan waktu mereka dengan berbagi sesuatu yang mereka tidak akan tertarik?” Tapi tidak ada dalam Alkitab yang pernah mengatakan pada kita untuk punya ide-ide prasangka buruk pada jiwa-jiwa, Alkitab hanya meminta kita untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang (Lukas 19:10). Sementara kita diajarkan hal-hal penting mengenai menjual buku, seperti berpakaian rapi, mengetahui isi buku yang kita jual secara menyeluruh dan terus menjaga kontak mata, saya percaya ini mengesankan orang itu. Mungkin dia berpikir, “Inilah caranya saya harus menghidupkan kehidupan saya,” atau mungkin, “Biarlah saya mendukung anak muda ini, sementara dia ada di jalan yang benar.’ Saya juga percaya bahwa satu benih telah ditanam dengan buku ini—dan bahwa dia sendiri ingin berjalan di jalan yang benar.

“Allah telah memberikan satu perintah khusus agar kita harus memperhatikan orang asing, kaum terbung, dan jiwa-jiwa miskin/malang yang lemah dalam kuasa moral. Banyak orang yang kelihatan sama sekali tak peduli pada hal-hal relijius/agama dalam hatinya merindukan ketenangan dan kedamaian. Walau mereka mungkin telah tenggelam sangat dalam, dalam dosa, ada kemungkinan untuk menyelamatkan mereka….

“Katakan pada jiwa-jiwa malang yang murung yang telah tersesat bahwa mereka tak perlu putus asa. Walau mereka telah bersalah, dan tidak membangun karakter yang benar, Allah punya sukacita untuk memulihkan mereka, bahkan gembira dari keselamatanNya. Dia senang mengambil yang kelihatannya bahan yang tiada harapan, mereka yang melalui siapa Setan telah bekerja, dan membuat mereka menjadi warga kasih karuniaNya. Dia bergembira untuk melepaskan mereka dari murka yang akan menimpa pada si pelanggar. Katakan pada mereka bahwa ada penyembuhan, pembersihan untuk setiap jiwa. Ada satu tempat bagi mereka di mejanya Tuhan. Dia sedang menunggu untuk menyambut mereka dengan selamat datang.”7 Betapa penyemangatan yang indah sementara kita melakukan pekerjaan ini! Allah ingin menggunakan anda dan saya untuk berbagi injilNya supaya Dia bisa memulihkan pada citraNya sendiri orang-orang seperti orang dalam kisah di atas, dan Dia sedang menunggu untuk memberi mereka satu tempat pada mejaNya sementara mereka menanggapi pada undangan panggilanNya.

Yang lain di “Lorong-lorong” atau “gang-gang”

Satu lagi kisah khusus mengenai jiwa kekasih di “Lorong-lorong” yang datang belakangan ketika saya sedang memimpin satu program penjual buku di negara bagian Washington. Di sana ada satu saudari muda bernama Daisy dalam program ini (Saya sudah dapat ijin untuk menggunakan nama pertamanya). Dia sangat bersemangat untuk menjual buku dan belajar menjual buku, karena ini adalah kali pertamanya. Dia punya kerinduan menjangkau jiwa-jiwa—dan sementara para penjual buku bisa mendapat bagian dari penjualan mereka, dia juga bersemangat untuk memperoleh uang untuk pergi ke sekolah misionari.

Suatu hari sementara kita semua lagi menjual buku, saya kaget melihat Daisy sangat bersemangat dan bahkan bergairah. (Dia biasanya normal malahan tenang dan kalem. Ternyata dia punya pengalaman indah dengan seorang ibu yang baru saja membeli beberapa buku dengan memberinya satu tas kertas untuk santap siang yang penuh dengan uang untuk membayar buku-buku. Totalnya ada kira-kira $350 dalam tas untuk membayar berbagai buku gereja. Dalam keheranan, para penjual buku lainnya bertanya pada Daisy tentang ibu ini. Apakah dia kaya?

“Tidak,” jawab Daisy. “Dia tidak cukup kaya, dan dia tidak hidup dalam kondisi terbaik.” Pada saat itu, saya terkesan untuk mengunjungi Perempuan ini untuk berterima kasih padanya atas bantuan murah hati untuk menolong Daisy dan untuk melihat jika saya bisa mendapat info kontaknya supaya pendeta local bisa menindaklanjutinya. Sementara Daisy berbagi Lokasi rumahnya, saya memarkir di Seberang jalan dari satu rumah yang kelihatan tua dan berjalan ke pintu rumah. Di beranda depan ada gadis muda bertelanjang kaki, yang tak terawat, berusia sekitar 12 tahun, sedang melihat pada beberapa buku yang baru saja dijual pada ibunya oleh Daisy.

Sementara bertanya si gadis berbicara dengan ibunya, pintu sedang terbuka, seorang Perempuan dengan reputasi dan pekerjaan dapat dipertanyakan datang ke pintu, dan bertanya siapa saya. Sementara saya berterima kasih padanya atas bantuan murah hatinya pada saudari kami Daisy, saudara bisa bayangkan pemikiran di kepala saya. Kenapa Perempuan ini mau—dari semua orang—memberikan bantuan yang begitu besar untuk Daisy, dan kenapa dia mau tertarik dengan buku-buku atau hal-hal yang sama sekali rohani?

Pertanyaan-pertanyaan saya segera dijawab….Saya bertanya padanya jika saya bisa memberinya lebih banyak lagi buku-buku, karena kita punya buku-buku lain yang dia belum terima, khususnya karena dia telah menyumbang lebih dari cukup. Saya juga bertanya kalau saya bisa dapat nomor kontaknya sehingga pendeta local bisa menawarkan doa, pelajaran Alkitab, dll.

Dia menanggapi bahwa dia tak akan memberikan nomor kontaknya untuk pelajaran Alkitab, dll., tapi bahwa dia akan memberikannya untuk satu hal: Dia katakan pada saya bhawa dia sangat terkesan pada saudari kita Daisy, kelakuannya, dan kerinduanNya untuk mengikuti Allah dan pergi ke sekolah misionari, bahwa sebagai orang tua Tunggal dia ingin hal yang sama untuk putrinya. Dia ingin saya menerima putrinya dalam program menjual buku. Sementara saya menginformasikannya bahwa putrinya sedikit terlalu muda, saya berjanji bahwa kami akan melibatkannya meski demikian—dan akan datang menjemputnya—untuk bergabung dengan kita sementara pergi ke berbagai tempat rekreaasi selama waktu off kami.

Perempuan ini kemudian berkata pada saya untuk menunggu, sementara dia lanjut masuk ke dalam rumah untuk mengambil satu lagi tas kertas untuk makan siang yang penuh dengan uang (kira-kira $350 dolar lagi) Sementara saya harus meninggalkan program ini selama sepekan dari malam itu, saya disampaikan oleh Daisy dan mereka yang bertugas bahwa mereka sudah menjemput gadis itu berapa kali untuk melibatkannya pada berbagai rekreasi dan benih injil telah ditanam.

Sementara saya memikirkan kembali kisah ini saya diingatkan tentang kisah Maria Magdalena sementara di rumah Simon. Perempuan ini, seperti maria, rela memberikan semua yang dia punya demi satu kesempatan untuk memperoleh kekayaan kekal dari kasih karunia dari kerajaan Allah untuk putrinya. Dalam menjalani perjalanan kita sebagai orang yang beribadah, sementara kita menemui orang-orang lain di sepanjang Lorong-lorong seperti Perempuan ini dan lelaki dalam kisah sebelumnya, kita harus bertanya pada diri kita sendiri, “Apakah saya, atau kita, seperti Simon orang Farisi, yang suka menghakimi dan menghukum orang lain—atau apakah kita seperti Kristus?

“Tuan rumah berpaling dari mereka yang menghina kelimpahan perjamuannya, dan mengundang satu golongan yang tidak penuh harta, yang tidak punya rumah dan tanah. Dia mengundang mereka yang miskin dan lapar, dan yang mau menghargai kelimpahan yang disedikan. “Kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal akan mendahului kamu masuk ke dalam Kerajaan Allah.” (Matius 21:31). Bagaimanapun malang bisa jadi orang-orang dari umat manusia sehingga orang-orang menghina dan berpaling meninggalkan mereka, mereka tidak terlalu rendah, terlalu malang, bagi perhatian dan kasih Allah. Kristus merindukan manusia-manusia yang lelah dan tak bahagia, letih, tertindas untuk datang padaNya. Orang-orang yang paling berdosa adalah obyek-obyek kasihNya dan belas kasihanNya yang sungguh, mendalam.8

Kesimpulan

Saudara-saudara, saudari-saudari dan kaum muda yang kekasih! Maukah kamu menjawab panggilan untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang? Undangan injil harus diberikan ke seluruh dunia—"kepada mereka yang diam di atas bumi dan kepada semua bangsa dan suku dan bahasa dan kaum,” (Wahyu 14:6). Pesan amaran dan rahmat terakhir akan menerangi seluruh bumi dengan kemuliaannya. Ini akan menjangkau semua golongan orang—kaya, miskin, tinggi, rendah. “Pergilah ke jalan-jalan dan lorong-lorong,” Kristus bersabda, “dan desaklah mereka supaya masuk, karena rumahKu harus penuh” (Lukas 14:23). Salah satu cara terbaik untuk memenuhi panggilan ini adalah mengirim anak-anakmu, cucu-cucumu, ponakan-ponakanmu ke program penjual buku kolportir dan sekolah misionari, dimana mereka bisa dilatih untuk berbagi injil dengan keberanian dan kasih. Saudara, juga, bisa diberkati dan memenuhi panggilan saudara dengan membangun hubungan dengan mereka di masyarakat saudara—apakah mereka kaum professional yang kaya, tetangga-tetangga yang lagi berjuang, atau siapa saja yang jauh dari iman—dengan menunjukkan kasih Kristus melalui sikap yang ramah, bantuan praktis, kata-kata harapan, atau hanya mendengarkan dengan empati. Berbagi sumber daya seperti makanan, pakaian, atau bahan bacaan rohani pada mereka yang mungkin dilupakan atau ditolak oleh masyarakat, dan libatkan juga kaum terdidik dan berpengaruh dengan diskusi bermakna bijaksana mengenai kebenaran-kebenaran kekal. Melalui bergaul dengan semua orang, seperti Kristus telah lakukan, kita bisa memenangkan kepercayaan mereka dan mengundang mereka ke Perjamuan Agung.

Semoga Tuhan memakai masing-masing kita, melalui upaya-upaya terorganisir dan kesaksian pribadi, untuk melaksanakan Amanat Agung Penginjilan (Matius 28:19, 20) dan menjadi terang dunia sementara kita pergi maju, mengundang orang-orang lain ke Perjamuan Agung. Amin!

Referensi:
1 Christ’s Object Lessons, pp. 222, 223.
2 Ibid., p. 226.
3 Ibid., pp. 229, 230.
4 The Ministry of Healing, p. 143.
5 Ibid., pp. 24, 25.
6 Christ’s Object Lessons, pp. 232, 233.
7 Ibid., p. 234.
8 Ibid., pp. 225, 226