Pergilah Ke Seluruh Dunia

Pada mulanya, Allah melembagakan keluarga sebagai inti dari masyarakat—sebuah tempat untuk pembentukan dan pengembangan karakter, kebiasaan-kebiasaan dan nilai-nilai. “Sistim Pendidikan didirikan di Eden yang dipusatkan dalam keluarga.”1 Rencana ilahi disesuaikan dengan ras manusia setelah kejatuhan. Pendidikan sejati adalah pekerjaan menebus dan memulihkan umat manusia, mengembangkan kecakapan-kecakapan fisik, mental dan rohani sesuai dengan karakter Kristus. Ia tidak dibatasi pada memperoleh ilmu pengetahuan, tapi berupaya menyiapkan individu bagi satu kehidupan pelayanan di muka bumi ini dan untuk kekekalan. Dasarnya ada dalam firman Alah dan bimbingan Roh Kudus. Kristus sebagai wakil dari Bapa, tautan antara Allah dan umat manusia, adalah sang Guru agung umat manusia, dan Dia merancang agar kaum pria dan wanita harus menjadi wakil-wakilNya. Keluarga adalah sekolah, dan orang tua adalah guru dalam keluarga. Prinsip ini dengan setia dipelihara dalam kehidupan Tuhan Yesus di bumi.
“Yesus tinggal di rumah tangga petani, dan dengan setia dan gembira melakukan bagianNya dalam memikul beban-beban di rumah tangga. Dia dulunya Komandan di surga, dan para malaikat senang mengikuti firmanNya, sekarang Dia adalah pelayan sukarela, seorang anak yang pengasih, penurut. Dia belajar bertukang bangunan, dan dengan tanganNya sendiri Dia bekerja di bengkel tukang kayu dengan Yusuf. Dengan pakaian sederhana dari seorang pekerja biasa Dia berjalan di jalan-jalan di kota kecil itu, pergi dan pulang dari pekerjaanNya yang sederhana. Dia tidak menggunakan kuasa ilahiNya untuk meringankan beban-bebanNya atau meringankan pekerjaanNya.”2 RumahNya adalah sekolah utama, dimana Yusuf dan Maria, yang dibimbing oleh prinsip-prinsip ilahi, memainkan satu peran mendasar dalam perkembanganNya menjadi manusia dewasa. Lingkungan keluarga dan budaya dimana Dia bertumbuh, dikelilingi oleh alam dan kesederhanaan, yang selanjutnya membentuk karakterNya dan menguatkan hubunganNya dengan Allah dan kebutuhan manusia.
“Pada zaman Kristus, bangsa Yahudi memberikan banyak perhatian pada Pendidikan anak-anak mereka. Sekolah-sekolah mereka dihubungkan dengan rumah-rumah ibadat, atau tempat-tempat ibadah, dan guru-gurunya disebut rabi-rabi, orang-oang yang dianggap sebagai sangat terpelajar.
“Yesus tidak pergi ke sekolah-sekolah ini, karena mereka mengajarkan banyak hal yang tidak benar. Alih-alih Firman Allah, perkataan orang-orang dipelajari, dan sering ini bertentangan dengan apa yang Allah telah ajarkan melalui para nabiNya.
“Allah sendiri melalui Roh KudusNya telah menginstruksikan Maria bagaimana membesarkan PutraNya. Maria mengajari Yesus dari Kitab Suci, dan Dia belajar untuk membaca dan menyelidiki Kitab Suci untuk diriNya.”3
Berbeda dengan pelatihan yang Yesus terima di rumah tangga, sekolah-sekolah para rabi pada zamanNya telah melupakan intisari sebenarnya dari Pendidikan dan berkonsentrasi pada upacara-upacara, dengan demikian menjadi diserap oleh formalitas yang kosong. Ini mengakibatkan pada satu Pendidikan yang tidak mengembangkan hubungan pribadi dengan Allah juga tidak mengembangkan pengembangan satu karakter yang didasarkan pada prinsip-prinsip ilahi sejati. Bukankah ini agak sama dengan kenyataan dimana kita hidup hari ini?
“Ide-ide kita mengenai Pendidikan adalah terlalu sempit dan terlalu rendah tingkatnya. Perlu satu ruang lingkup yang lebih luas, tujuan yang lebih luhur. Pendidikan sejati berarti lebih dari pada mengikuti kursus pelajaran tertentu. Ia berarti lebih dari pada satu persiapan untuk kehidupan sekarang. Ia harus berhubungan dengan manusia seutuhnya, dan dengan seluruh periode keberadaan yang mungkin bagi manusia. Pendidikan adalah pengembangan yang harmonis dari kekuatan-kekuatan fisik, mental, dan rohani. Pendidikan menyiapkan murid bagi sukacita pelayanan di dunia ini dan bagi gembira yang lebih tinggi dari pelayanan yang lebih luas di dunia yang akan datang.”4 Sedihnya, dalam akademi di dunia ini, karakter dan nilai-nilai yang begitu penting dalam kehidupan manusia dan dalam persiapan untuk Surga diabaikan. Dengan memahami kesalahan-kesalahan di masa lalu, kitab isa menemukan kembali tujuan sebenarnya dari Pendidikan ilahi.
Pendidikan sejati datang dari Allah dan tujuannya untuk memulihkan citra/peta ilahi pada umat manusia. Pendidikan sejati tidak terbatas pada memperoleh ilmu pengetahuan akademis, tapi meliputi pembentukan rohani, moral, dan sosial dari manusia. Oleh sebab itu Pendidikan adalah pekerjaan yang suci dan khidmat. Dalam kitab suci kita melihat bagaimana Allah memohon pada para orang tua tentang Pendidikan anak-anak mereka Menunjuk pada Abraham, Tuhan menyatakan: “Sebab Aku telah memilih dia, supaya diperintahkannya kepada anak-anaknya dan kepada keturunannya supaya tetap hidup menurut jalan yang ditunjukkan TUHAN, dengan melakukan kebenaran dan keadilan, dan supaya TUHAN memenuhi kepada Abraham apa yang dijanjikan-Nya kepadanya." (Kejadian 18:19). Karena hubunganNya yang erat dengan Allah, Abraham mendidik keluarganya dalam cara-cara Tuhan. Untuk membuat ini menjadi kenyataan dalam rumah tangga kita maka diperlukan juga untuk mengembangkan kebiasaan-kebiasaan pengabdian kasih kepada Juruselamat jiwa-jiwa, untuk mengajarkan anak-anak kita bahwa melalui doa mereka punya satu Sahabat yang akan mendengarkan pada semua mimpi dan penderitaan mereka. Bahwa melalui membaca Alkitab tiap hari mereka akan mengerti sifat Allah dan bagaimana Dia dengan kasih yang berbelas kasihan memperlakukan. Jadi mereka akan belajar untuk memperlakukan orang lain dengan hormat, kasih dan kesabaran. Mereka akan belajar untuk menjadi penuh belas kasihan dan ramah pada ras manusia yang Dia dengan lembut telah menciptakan manusia. Dengan mengerti Pendidikan sejati memimpin kita untuk mengenali bahwa tujuan utama dari proses ini adalah pembentukan karakter, karena inilah satu-satunya harta yang kita bisa bawa ke Surga.
Pembentukan karakter adalah proses mendasar dan meluas dalam kehidupan; karakter adalah satu-satunya kepemilikan yang kita akan bawa ke Surga dan karakter ini dibangun di rumah tangga. “Satu karakter/tabiat yang dibentuk sesuai dengan keserupaan ilahi adalah satu-satunya harta yang kita bisa bawa dari dunia ini ke dunia yang akan datang. Mereka yang berada di bawah instruksi Kristus di dunia ini akan membawa setiap pencapaian ilahi bersama mereka ke istana-istana surgawi. Dan di surga kita akan terus berkembang. Jadi, betapa penting, pengembangan karakter dalam kehidupan ini.”5 Pekerjaan suci dari para orang tua adalah untuk menginstruksikan dan mengajarkan anak-anak mereka untuk takut/menghormati dan menuruti Allah sehingga dengan bantuan Roh Kudus mereka bisa mengembangkan satu karakter yang sama dengan karakter Bapa mereka di Surga. Tuhan menyatakan, “Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun. (Ulangan 6:6, 7).
Ketika para orang tua mengabaikan pedoman Pendidikan yang diberikan Allah dan kewajiban khidmat mereka dikesampingkan, maka anak-anak mereka dididik oleh si musuh jiwa-jiwa. Kasus Eli si imam besar harus menyita perhatian kita. Dalam 1 Samuel 2:12 kita disampaikan: “Adapun anak-anak lelaki Eli adalah orang-orang dursila (anak-anak Belial); mereka tidak mengindahkan TUHAN.” Anak-anak perlu perhatian dan bimbingan yang penuh berjaga-jaga seperti tak pernah sebelumnya, karena Setan sedang berjuang untuk memperoleh kendali atas pikiran dan hati mereka dan mengusir Roh Allah.
“Keadaan mengerikan dari kaum muda pada zaman ini merupakan salah satu tanda terkuat bahwa kita sedang hidup pada hari-hari terakhir, tapi kebinasaan dari banyak orang bisa ditelusuri secara langsung kepada kesalahan manajemen/pengaturan dari para orang tua. Roh persungutan terhadap teguran telah berakar dan menghasilkan buah dalam ketidakpatuhan. Sementara para orang tua tidak senang dengan karakter anak-anak mereka yang dikembangkan, mereka gagal untuk melihat kesalahan-kesalahan yang membuat anak-anak mereka seperti apa adanya.”6
Para orang tua harus mengerti bahwa Pendidikan orang Kristen tak boleh hanya berfokus pada intelek/kecerdasan, tapi pada pengembangan karakter, pembentukan moral, dan persiapan untuk hidup yang kekal. Mereka tidak dapat memenuhi dengan wajar tanggungjawab mereka kecuali mereka mengambil Firman Allah sebagai aturan kehidupan. Mereka mesti mengerti bahwa mereka harus mendidik dan membentuk karakter dari setiap anak manusia yang bernilai yang dipercayakan pada pemeliharaan mereka, hingga akhirnya datang untuk melihat prinsip-prinsip Pendidikan sejati dan pentingnya pengembangan karakter sebagai satu proses dengan maksud-maksud kekekalan. Pada zaman kita dan era kita, kita mesti secara khusus waspada terhadap persahabatan yang dibuat oleh anak-anak kita. Apakah sesama mereka yang mereka pilih sebagai teman-teman akan menolong mereka memantulkan citra Bapa Surgawi atau apakah mereka akan mempengaruhi anak-anak saudara untuk memantulkan raja dunia ini? Apakah konten/isi media yang mereka sedang lihat akan menyucikan mereka atau akan menurunkan nilai-nilai mereka dan merusak kebiasaan-kebiasaan rohani mereka? Untuk memimpin mereka turun di jalan sempit, teladan di dalam keluarga adalah sangat penting.
Pendidikan orang Kristen dimulai pada usia awal dengan teladan/contoh dari guru pertama anak-anak, yaitu orang tuanya. Inilah kenapa kita didesak untuk punya dalam rumah tangga kita suatu surga kecil, sehingga anak-anak akan belajar dengan meniru contoh dari orang tua mereka. Dalam Galatia 5:22, 23 buah-buah Roh diterangkan sebagai kasih, sukacita, damai Sejahtera, kesabaran, kemurahan hati, kebaikan, kesetiaan, kelembutan dan penguasaan diri atau pengendalian diri—kwalitas-kwalitas atau mutu-mutu yang membuat karakter orang Kristen yang kokoh. Raja Salomo mengingatkan kita, “Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu.” (Amsal 22:6). Rasul Paulus juga memohon kita untuk membaharui pikiran dan karakter menurut kehendak Allah (Roma 12:2) Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak kAllah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. Dalam Matius 5:48 Yesus sendiri meminta kita untuk menjadi sempurna seperti Bapa surgawi kita yang sempurna, yang berarti pertumbuhan secara terus-menerus untuk menjadi serupa dengan Kristus. Pengembangan karakter adalah proses perubahan yang terus berlangsung yang meminta intervensi/campur tangan Roh Kudus dan komitmen dari individu/perorangan. Tujuan utama dari Pendidikan orang Kristen dan kehidupan orang Kristen adalah pengembangan karakter. “Setiap umat manusia, yang diciptakan dalam citra/gambar Allah, dikaruniai dengan satu kuasa yang berasal dari sang Pencipta—individualitas/kepribadian, kuasa untuk berpikir dan untuk berbuat. Orang-orang pada siapa kuasa ini dikembangkan adalah orang-orang yang memikul tanggungjawab, yang adalah para pemimpin dalam Perusahaan, dan yang mempengaruhi karakter. Adalah pekerjaan dari Pendidikan yang benar untuk mengembangkan kuasa ini, untuk melatih kaum muda untuku menjadi para pemikir, dan bukan hanya para reflector/pemantul dari pemikiran orang lain. Alih-alih membatasi pelajaran mereka pada apa yang orang-orang telah katakan atau tuliskan, biarlah para murid diarahkan kepada sumber-sumber kebenaran, ke ladang-ladang luas yang terbuka untuk diteliti di alam dan wahyu. Biarlah mereka merenungkan fakta-fakta agung mengenai kewajiban dan Nasib, dan pikiran akan meluas dan menguat. Alih-alih menjadi orang-orang yang lemah terdidik, Lembaga-lembaga Pendidikan bisa mengirim orang-orang yang kuat berpikir dan bertindak, manusia-manusia yang bisa menguasai dirinya mengendalikan dirinya dan bukan budak-budak keadaan, manusia-manusia yang memiliki keluasan pikiran, kejernihan pemikiran, dan keberanian untuk membela keyakinan-keyakinan mereka.
“Pendidikan demikian menyediakan lebih dari pada disiplin mental; ia menyediakan lebih dari pada pelatihan fisik/jasmani. Ia menguatkan karakter, sehingga kebenaran dan kejujuran tidak dikorbankan untuk kerinduan cinta diri atau ambisi duniawi. Ia menguatkan pikiran melawan kejahatan. Alih-alih suatu hawa nafsu yang menguasai menjadi satu kuasa untuk membinasakan, setiap motif dan kerinduan dibawa dalam kesesuaian pada prinsip-prinsip kebenaran yang agung. Sementara kesempurnaan karakterNya direnungkan, maka pikiran dibaharui, dan jiwa diciptakan-kembali dalam citra Allah.”7
Para orang tua harus mengembangkan satu lingkungan yang gembira dan sehat untuk anak-anak mereka dengan menjauhkan mereka dari—dan menyadarkan mereka dari—kuasa pengaruh-pengaruh negative dan bagaimana pengaruh-pengaruh demikian bisa membentuk karakter dan akhirnya memimpin mereka menjauh dari Allah. “Tindakan-tindakan, yang sering diulangi, membentuk kebiasaan-kebiasaan, kebiasaan-kebiasaan membentuk karakter. Dengan sabar lakukan kewajiban-kewajiban kecil dalam kehidupan. Selama kamu meremehkan pentingnya kesetiaan dalam kewajiban-kewajiban kecil, Pembangunan karakter kamu akan menjadi tidak memuaskan. Di mata Tuhan Yang Maha Kuasa, setiap kewajiban adalah penting. Tuhan telah bersabda, ‘Dia yang setia dalam hal-hal terkecil dia juga setia dalam hal-hal terbesar.’ Dalam kehidupan orang Kristen asli tiada hal-hal yang tidak penting.”8
Pembentukan karakter yang terpadu harus didasarkan pada prinsip-prinsip berikut:
1.Bergantung pada Allah: Cari Allah tiap hari dalam doa dan pelajaran Alkitab (Filipi 4:13).
2. Disiplin dan pengendalian diri: Mengendalikan pemikiran, perkataan, dan tindakan (Amsal 16:32).
3. Pelayanan pada orang lain: Mengembangkan karakter luhur dengan mengasihi dan menolong orang lain (Matius 25:40).
4. Instruksi didasarkan pada prinsip-prinsip ilahi sejak bayi (Amsal 22:6; 2 Timotius 3:15).
5. Tekun dalam perubahan: Pengembangan karakter adalah satu proses yang terus berlangsung sampai jiwa memantulkan citra Yesus sepenuhnya (2 Korintus 3:18; Early Writings, hal. 71).
Para pendidik di dunia ini menegaskan apa yang Tuhan telah tetapkan dalam rencana ilahi untuk Pendidikan. Anak-anak belajar terbaik ketika merek abisa menghubungkan ilmu pengetahuan dengan lingkungan mereka melalui menerapkannya secara praktis dalam kehidupan mereka sehari-hari. Dari usia awal anak-anak harus belajar satu pekerjaan yang berguna atau pekerjaan yang praktis yang memfasilitasi pengembangan kecakapan yang akan menjadi mendasar dalam mengembangkan kwalitas-kwalitas atau mutu-mutu seperti sikap bertanggung jawab, sikap disiplin, tekun, dan sabar. Sebagai tambahan, ini membolehkan mereka untuk mengubah Pendidikan menjadi satu pengalaman yang bermakna dan memperkaya yang menolong mereka bukan hanya supaya lulus ujian, tapi agar sukses menghadapi tantangan-tantangan kehidupan. Semua ini harus didasarkan pada Kitab Suci,
Sejak awal, Allah menetapkan pendidikan sebagai satu proses terpadu. Dalam Kejadian 1:27 kita disampaikan bahwa manusia diciptakan dalam citra dan gambar yang serupa dengan Allah. Ini berarti bahwa pengetahuan ilahi mesti mesti dasar dari semua ajaran. Amsal 9:10 menyatakan bahwa “takut akan Tuhan adalah permulaan hikmat: dan pengetahuan pada yang suci adalah pengertian,” menegaskan bahwa Pendidikan sejati dimulai dengan dasar rohani yang kokoh yang mesti mengikuti prinsip dasar berikut: “Pekerjaan Pendidikan dan pekerjaan penebusan adalah satu pekerjaan,”9 yang menegaskan bahwa pengajaran mesti memimpin kepada perubahan rohani.
1.Dipusatkan pada Kristus: Allah mesti menjadi pusat dari semua pengajaran (Kolose 2:3).
2. Terpadu: Pendidikan harus meliputi pengembangan fisik/jasmani, mental dan rohani (Lukas 2:52).
3. Praktis dan dapat diterapkan: Bukan hanya teoritis, tapi berpusat pada kehidupan sehari-hari dan pelayanan pada orang lain (Matius 25:40).
4. Pembentukan karakter. Pendidikan harus membentuk karakter untuk memantulkan citra Kristus. “Tiada cinta diri mendasari semua pengembangan yang benar. Melalui pelayanan yang tak mementingkan diri sendiri kita menerima budaya tertinggi dari setiap kecakapan. Makin sepenuhnya dan semakin sepenuhnya kita menjadi partisipan sifat ilahi Kita dilayakkan untuk surga, karena kita menerima surga di dalam hati kita.”10
5. Fokus pada harapan dan penebusan: Pendidikan harus menyiapkan manusia untuk kehidupan sekarang dan hidup yang kekal. “Pekerjaan kehidupan yang diberikan pada kita adlah pekerjaan persiapan untuk hidup yang kekal, dan jika kita menyelesaikan pekerjaan ini sebagaimana Allah telah merancangnya agar kita harus menyelesaikannya, maka tiap godaan dapat bekerja untuk kemajuan kita; karena sementara kita melawan godaan, kita membuat kemajuan dalam kehidupan ilahi. Dalam panasnya konflik, sementara terlibat dalam perang rohani sungguh, agen-agen yang tak kelihatan ada di samping kita, yang ditugaskan dari surga untuk membantu kita dalam pergumulan kita, dan dalam krisis, kekuatan dan keteguhan dan tenaga diberikan pada kita, dan kita punya lebih dari pada kuasa manusia fana.”11
Pendidikan orang Kristen tidak terbatas hanya di rumah tangga atau sekolah, tapi meliputi di gereja sebagai tiang dasar dalam pengembangan rohani. Melalui gereja, anak-anak muda menerima bimbingan, dukungan dan teladan-teladan iman yang akan menolong mereka bertumbuh dalam hubungan mereka dengan Allah dan diperkuat untuk menghadapi masa depan.
“Engkau akan membangun reruntuhan yang sudah berabad-abad, dan akan memperbaiki dasar yang diletakkan oleh banyak keturunan. Engkau akan disebutkan "yang memperbaiki tembok yang tembus ", "yang membetulkan jalan supaya tempat itu dapat dihuni". (Yesaya 58:12). Panggilan khidmat ini meliputi Pendidikan:
“Setan telah menggunakan cara-cara yang paling cerdik untuk merajut rencana-rencananya dan prinsip-prinsipnya dalam sistim Pendidikan, dan dengan demikian memperoleh pegangan yang kuat pada pikiran anak-anak dan anak-anak muda. Adalah pekerjaan pendidik sejati untuk menggagalkan alat-alatnya. Kita berada di bawah perjanjian khidmat, suci kepada Allah untuk membesarkan anak-anak kita untuk Dia dan bukan untuk dunia ini; untuk mengajar mereka untuk tidak menaruh tangan mereka di tangan dunia, tapi untuk mengasihi dan menghormati Allah, dan menuruti perintah-perintahNya. Mereka harus dikesankan dengan pemikiran bahwa mereka dibentuk dalam citra Pencipta mereka dan bahwa Kristus adalah patron mengikuti mana mereka akan dipakaikan. Perhatian paling sungguh mesti diberikan pada Pendidikan yang akan memberikan satu ilmu pengetahuan tentang keselamatan, dan akan mengubah kehidupan dan karakter mengikuti kesamaan ilahi. Adalah kasih pada Allah, kemurnian jiwa yang dipadukan dalam kehidupan seperti benang-benang emas, yang bernilai sebenarnya. Ketinggian yang manusia dengan demikian bisa jangkau belum sepenuhnya diwujudkan.
“Untuk pencapaian pekerjaan ini suatu pondasi yang luas mesti diletakkan. Satu tujuan baru mesti dibawa masuk dan mendapat tempat, dan para murid mesti dibantu dalam menerapkan prinsip-prinsip Alkitab dalam semua yang mereka lakukan. Apapun yang bengkok, apapun yang menyimpang dari jalan kebenaran, harus dengan jelas ditunjukkan dan dihindari; karena itu adalah kejahatan yang bukan untuk dikekalkan. Adalah penting agar setiap guru harus mengasihi dan memajukan prinsip-prinsip dan ajaran-ajaran yang sehat, karena inilah terang untuk dipantulkan di jalan semua murid.”12
“Tetapi engkau, beritakanlah apa yang sesuai dengan ajaran yang sehat.” (Titus 2:1)
Untuk melaksanakan pekerjaan ini kita perlu mendukung satu sama lain dan menciptakan jaringan pendukung dengan mana tujuan ini dapat tercapai. Baru-baru ini di Kolombia, melalui Yayasan Pendidikan Oded, kita mengembangkan satu cara Pendidikan yang merangkul manusia seutuhnya. Tujuan tunggalnya adalah untuk memulihkan citra Allah pada anak-anak dan anak-anak mud akita, oleh mana rencana awal yang Allah telah telah tetapkan untuk Pendidikan dipulihkan. Para orang tua punya tanggungjawab untuk menyediakan hubungan yang vital kepada Allah—menyediakan pengalaman yang membolehkan anak-anak untuk menghubungkan apa yang mereka pelajari dengan dunia nyata. Bagaimanapun juga, ini bukan hanya kewajiban para orang tua, gereja juga menjadi pendukung dasar dalam memenuhi misi besar ini.
Allah meminta kita untuk hidup oleh iman, dan ini bukan hanya dengan menghadiri gereja atau mengikuti kebiasaan-kebiasaan tertentu, tapi malahan membolehkan Kristus untuk membentuk hati kita dan karakter kita. Perubahan ini mesti dipantulkan dalam cara kita berpikir dan bertindak.
Misi kita untuk menjadi terang dunia dimulai dengan Pendidikan anak-anak, anak-anak muda, dan para orang tua untuk mengabarkan injil. Semoga hikmat Tuhan menjadi pondasi kita, supaya Dia bisa memberi kita pengertian dan mengajari kita jalan dimana kita harus berjalan! (Amsal 1:7; Mazmur 32:8.)